Merajut Makna, Perjalanan Orang2 Shaleh dlm Menuntut Ilmu – Ust. Muhammad Nuzul Dzikri, Lc

0
113

Makna yang pertama adalah keikhlasan, karena menuntut ilmu butuh kepada keikhlasan. Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah Ta’ala beliau pernah mengatakan “Sesungguhnya daya hafal seseorang itu tergantung kualitas niatnya didalam hati, semakin dia ikhlash semakin mudah dia memahami Al-Qur’an Nur Karim, semakin dia ikhlash semakin mudah dia memahami hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, semakin dia ikhlash semakin istiqomah dia untuk duduk dimajelis ilmu. Dan Al-Imam As-Syaukani Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab Addabut Tholab beliau menjelaskan “Betapa besarnya pengaruh ikhlas dalam keistiqomahan kita, betapa besarnya pengaruh keikhlasan dalam mempengaruhi daya hafal kita dan daya pemahaman kita”. Bagaimana tidak bukankah Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersadda “Jika Jujur dengan Allah, Allah akan wujudkan cita-cita kita”.

Makna yang Kedua adalah Menghargai Ilmu, meresapi keagungan ilmu bahwa ilmu lebih baik daripada seluruh harta dunia, ilmu lebih mulia dari gaji bulanan yang kita dapatkan, ilmu lebih mulia dari rumah yang kita miliki, ilmu lebih mahal daripada seluruh omset yang kita terima, ilmu diatas segalanya karena inilah jalan keselamatan. Imam Ahmad Bin Hanbal pernah mengatakan “Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman karena makanan dan minuman hanya butuh dalam 3 kali sehari.

Makna yang ketiga adalah Beradab dan berakhlak dihadapan guru kita, ini makna yang sangat dijungjung tinggi oleh para ulama yang harus kita rajut, para ulama punya adab terhadap guru-guru meraka. Abdullah bin Abbas apabila melihat Zait bin Tsabit datang beliau langsung ambil tali kekang tunggangan zait bin tsabit, kata Zait bin Tsabit “Biarkan begitu saja aku bisa memarkirkan unta ini sendiri”, dan Abdullah bin Abbas langsung mengerjakannya sendiri padahal beliau waktu itu seorang yang terharmat pada saat itu tapi beliau tidak menyuruh murid-muridnya atau bawahannya. Ketika Zait bin Tsabit menolaknya maka Abdullah bin Abbas mengatakan “Beginilah kami diperintahkan oleh Nabi untuk menyikapi ulama-ulama kami”, beginilah kami diperintah oleh Nabi untuk menghargai, beradab kepada ahli ilmu kami kepada guru-guru kami, jadi ini adalah sunnah-sunnah Nabi yang harus dicamkan baik-baik oleh para penuntut ilmu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here